Rabu, 19 Januari 2022

PENERJEMAH

 ✏PENERJEMAH


Di awal belajar bahasa Arab, saya selalu ingatkan ke teman-teman yang belajarnya di luar pondok pesantren. Saya ingatkan untuk FOKUS dulu pada KEMAHIRAN MEMBACA (مهارة القراءة) atau READING SKILL. 


Kenapa?


Sebab, kemahiran ini yang paling mudah dipelajari. Sarana belajarnya juga seabreg di internet. Baik yang gratis maupun yang berbayar. Pelatihan onlinenya juga banyak.


Ditambah lagi, kemahiran ini pula yang paling kita butuhkan sehari-hari. Dengannya, kita bisa mempercantik ibadah kita sehari-hari yang bersentuhan langsung dengan bahasa Arab, seperti shalat, dzikir, do'a, dan tilawah al-Qur'an.


Ituh!


Makanya terkadang mungkin banyak orang merasa berat ketika awal belajar bahasa Arab karena dia nggak fokus belajarnya. Semua kemahiran pingin dia pelajari di awal. Dia pingin bisa ngomong, dengerin syekh ceramah, dan pingin bisa nulis makalah berbahasa Arab. Akhirnya dia pun keberatan dan berhenti di tengah jalan.


Beda keadaanya kalau kita belajarnya di pondok pesantren. Waktu kita memang fokus untuk belajar. Pembimbing juga ada. Jadi nggak masalah kalau belajar semua kemahiran langsung diawal. Kemahiran mendengar, ngomong, menulis, dan membaca.


Jauh sekali keadaannya dengan kita yang belajarnya kadang seminggu cuma berapa kali. Udah gitu kita selingi dengan kesibukan nyari nafkah, ngurus keluarga, dll. Ditambah lagi tidak ada guru yang membimbing langsung. Tentu akan berat kalo harus belajar semua di awal. Apalagi bagi yang sudah berumur.


Nah, demikian..


Sekarang, saya ingin memberi masukan lagi nih..


Bagi Antum yang sudah menyelesaikan kaidah dasar Nahwu-Shorof, coba Antum praktekan kaidah yang sudah Antum pelajari. Misalnya dengan menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa Arab. Supaya Antum semakin faham dengan kaidah yang selama ini Antum pelajari.


Banyak orang bilang:


" Belajar teori Nahwu-Shorof mah gampang... Sebentar juga faham. Yang susah itu prakteknya... Apalagi kalau sudah dihadapkan dengan kalimat panjang..!"


Nah...!


Memang demikian. Makanya kita kudu banyak latihan. Nggak cukup dengan teori saja.


Banyak manfaat yang bisa kita dapat dengan sering latihan menerjemahkan. Diantaranya:


1. Semakin faham kaidah yang sudah kita pelajari.


2. Jadi tau penerapan kaidah dalam tulisan panjang.


3. Jadi semakin banyak mufrodat.


4. Melatih kemampuan menulis dengan bahasa Indonesia.


Makanya..


Dahulu kala, sepulang saya dari Dauroh Bahasa Arab selama sebulanan mempelajari Kitab Mulakhosh di Ponpes Al-Furqon Gresik Jawa Timur, saya coba latihan menerjemahkan. Saya mulai dari menerjemahkan buletin-buletin berbahasa Arab.


Tidak puas dengan buletin, saya lanjut ke kutaibat (buku-buku saku) berbahasa Arab. Dan, untuk menguji kualitas terjemahan, maka sebagian naskah terjemahan saya coba kirim ke beberapa penerbit Islam. Alhamdulillah sebagiannya diterima.


Naaah...! Begituh ceritanyah!


Oya, saya jadi teringat dengan perkataan seorang teman. Sebut saja namanya Kumbang. Waktu masih kuliah di LIPIA, dia pernah dinasihatin dosennya begini:


"Mbang, coba Antum latihan menerjemah.......".


Setelah itu, teman saya itu pun terlihat mulai aktif menerjemahkan kitab. 


Dan memang...


Modal kemahiran bahasa Arab saja nggak cukup untuk bisa menerjemahkan kitab dengan baik. Kita juga kudu mahir merangkai kata dalam bahasa Indonesia, agar mudah difahami orang. Dan itu akan mudah kita lakukan kalau kita sudah sering latihan menerjemah.


Demikian.


Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Terutama buat Antum-Antum semua yang saat ini sedang belajar bahasa Arab.


Silakan diminum kopinya..


Wassalam.


Bogor, Sabtu pagi 14/1/2017

Muhammad Mujianto al-Batawie


📒 BELAJAR BAHASA ARAB DARI NOL


💦 ILMU NAHWU MUDAH


👇KLIK👇

https://drive.google.com/file/d/1q72ydSly1vVdkND3ZCfGasr4b7QgdMas/view?usp=drivesdk


💦 ILMU SHOROF MUDAH


👇KLIK👇

https://drive.google.com/file/d/1q5wxLaThQjAMTvIVdQCOMK0l4B_R2Hw6/view?usp=drivesdk


👇PENJELASAN LENGKAP👇


https://t.me/berkenalandenganbahasaarab


✊SEMANGAT BELAJAR✊

MUROJA'AH

 ☝️JANGAN LUPA MUROJA'AH!


Inilah yang selalu saya ingatkan kepada kawan-kawan yang sedang belajar bahasa Arab.


JANGAN LUPA MUROJA’AH….! 


JANGAN LUPA MUROJA’AH….! 


☝️JANGAN LUPA MUROJA’AH…..!


Dikelas bahasa Arab yang saya asuh, saya tak bosan-bosannya mengingatkan murid-murid saya.


JANGAN LUPA MUROJA’AH….! 


JANGAN LUPA MUROJA’AH….! 


JANGAN LUPA MUROJA’AH…..!


Sebab muroja’ah itu penting. Bahkan sangat penting. 


Saya sangat yakin, tidak ada seorang pun yang sekarang mahir berbahasa Arab tanpa melakukan muroja’ah di dalam proses belajarnya. Kalau tidak percaya, coba tanyakan langsung kepada mereka-mereka yang sekarang sudah jago bahasa Arab.


Kenapa muroja’ah begitu penting?


Sebab, dengan muroja’ah kita jadi semakin faham materi yang sudah kita pelajari. Dengan muroja’ah, materi pelajaran yang awalnya terasa redup, bisa berubah kemudian menjadi terang benderang.


 Muroja’ah juga merupakan bukti bahwa kita ini memang SERIUS & SUNGGUH-SUNGGUH ingin bisa bahasa Arab. Bukan cuma pengen, doang! Tapi memang serius ingin BISA.


Saya jadi teringat dengan seorang anak kecil usia sekitar 12 tahunan yang pernah mengikuti pelatihahan bahasa Arab selama satu bulanan di sebuah pondok pesantren. Selesai belajar di kelas, dia ulang kembali pelajaran yang dia dapat sambil duduk bersandar di dinding masjid. Akhirnya, dia bisa menjadi juara mengalahkan peserta lainnya yang berusia jauh di atasnya.


Dan saya juga ingat ketika awal-awal semangat belajar bahasa Arab (Sekitar tahun 1999). Pernah saya bangun sekitar jam 1-2 malam untuk muroja’ah pelajaran bahasa Arab yang sudah saya dapat. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menjadi seperti sekarang ini, bisa menulis SERIAL KITAB FAHIMNA (Panduan Belajar Bahasa Arab Secara Otodidak).


Makanya, saya tak bosan-bosannya mengingatkan kepada siapa saja yang sekarang ini sedang belajar bahasa Arab.


JANGAN LUPA MUROJA’AH….!


JANGAN LUPA MUROJA’AH….! 


JANGAN LUPA MUROJA’AH…..!


Demikian saja. 


Semoga bermanfaat.


Sekali lagi..


JANGAN LUPA MUROJA’AH YA…….


Wallahu a’lam.


✍️ Muhammad Mujianto


👇BELAJAR MENYUSUN KALIMAT👇


https://youtube.com/playlist?list=PLaZXzoTqr1A-QlaDAYW8zZxMm1L_FiD9l

3 CARA BELAJAR

 🖊️3 CARA BELAJAR BAHASA ARAB YANG PERLU KITA COBA


Mungkin Anda sudah sering membaca cara-cara efektif belajar bahasa Arab di internet. Ada yang menyarankan begini, dan ada yang menyarankan begitu. Saran saya, baca saja semua cara itu. Setelah itu terserah Anda mau menggunakan cara yang mana. Atau Anda bisa mengkombinasikannya menjadi cara Anda sendiri.


Berikut ini saya akan menyampaikan tiga cara belajar bahasa Arab yang mudah-mudahan bermanfaat untuk Anda. Minimal bisa menjadi wawasan baru untuk Anda semua.


✨ Cara Pertama: Belajarlah dari orang yang sudah bisa.


Ketika kita ingin belajar menyetir mobil, apakah kita akan belajar dari orang yang belum bisa nyetir mobil? Tentu tidak, bukan?! Kita tentu akan mencari orang yang sudah bisa menyetir mobil. Tidak harus seorang pembalap. Yang penting dia sudah bisa menyetir mobil.


Nah, demikian pula halnya dengan bahasa Arab. Hendaknya kita mencari orang yang sudah bisa bahasa Arab untuk mengajari kita. Tidak mesti seorang pakar bahasa Arab yang bergelar Lc atau doktor. Yang penting dia bisa bahasa Arab maka sudah cukup untuk kita jadikan guru di awal kita belajar. Usahakan untuk bisa belajar langsung di hadapannya.


Jika kita tidak bisa belajar langsung, kita bisa belajar lewat buku-buku pelajaran yang sudah dia tulis. Lebih bagus lagi jika ada rekaman video atau audio. Jangan lupa untuk meminta wejangan tentang strategi sukses dalam belajar bahasa Arab. Syukur-syukur dia bisa menceritakan pengalaman hidupnya dalam belajar bahasa Arab.


✨ Cara Kedua: Belajarlah secara bertahap.


Ingatkah Anda ketika kecil dahulu belangar ngaji alif-ba-ta. Apakah Anda belajarnya langsung berlembar-lembar atau bertahap? Ya, tentu saja. Setiap kita dulu belajar ngaji secara bertahap. Sedikit demi sedikit, satu halaman demi satu halaman, hingga tanpa terasa akhirnya kita bisa membaca al-Qur’an dengan lancar seperti sekarang ini.


Cara ini pun mestinya kita terapkan dalam belajar bahasa Arab. Pelan-pelan saja, namun kontinyu berkesinambungan. Tidak mengapa sehari bisa membaca 1-2 lembar buku nahwu, atau cuma menghafal 1 tashrif fi’il. Lama kelamaan kalau kita mau sabar, kita akan bisa menyelesaikan semua materi dalam buku nahwu dan shorof. Ingat kata pepatah: SEDIKIT DEMI SEDIKIT, LAMA-LAMA MENJADI BUKIT!


 


✨ Cara Ketiga: Belajarlah secara intensif.


Ketika dahulu awal belajar, sehari kadang saya cuma belajar satu jam. Tapi kemudian saya ikut pelatihan bahasa Arab selama hampir sebulan penuh di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Belajarnya sehari sekitar 8 jam, dari pagi sampai malam. Setiap hari seperti itu hingga sekitar hampir satu bulan lamanya. Alhamdulillah, sepulang dari pelatihan saya merasakan manfaat yang luar biasa.


Dari pengalaman saya ini bisa saya ambil faidah bahwa belajar intensif itu penting. Adakalanya kita perlu belajar lebih dari kebiasaan kita. Namun itu tidak setiap hari. Kita bisa melakukannya seminggu atau sebulan sekali.


Misalnya setiap hari dalam seminggu kita belajar sehari hanya satu jam. Tapi di akhir pekan kita belajar intensif selama 3-4 jam atau lebih. Besoknya kita belajar biasa lagi selama satu jam. Namun di akhir pekannya kita belajar intensif lagi selama 3-4 jam. Kemudian sebulan sekali –misalnya di akhir bulan- kita belajar intensif dalam sehari sekitar 5-8 jam. Lebih bagus lagi jika setiap tahun kita bisa mengikuti dauroh/pelatihan bahasa Arab selama sebulan full. Insya Allah manfaatnya akan sangat terasa.


Bagaimana, tertarik untuk mencoba tiga cara ini?


Semoga bermanfaat.


Wallahu a’lam.


 


Jakarta, Kamis pagi 2 Januari 2014


 ✍️Muhammad Mujianto


📒 KALIMAT ANGKATAN 14


https://www.facebook.com/833159150054672/posts/4647677365269479/

PUSYING!

 PUSYING!


@MuhammadMujianto


Pernah suatu ketika, saya dan kawan-kawan dari Pondok Prestasi mengadakan Pelatihan Bahasa Arab Intensif 3 HARI di salah latu Lab ILKOM IPB. Pelatihan berlangsung dari sekitar jam 7-an, sampai menjelang Zhuhur. Sesi pertama Bahasa Arab sampai sekitar jam 10-an. Kemudian dilanjutkan dengan Ilmu Tajwid oleh pengajar yang lain.


Di akhir pelatihan, saya adakan ujian kecil-kecilan. Dan saya minta komentar peserta terkait pelajaran bahasa Arab. Apakah bikin pusing? Apakah mereka pingin lanjut?


Alhamdulillah responnnya positif. Meskipun banyak yang merasa pusing, namun banyak yang senang dan tertarik ingin lanjut belajar menyelesaikan materi yang belum dibahas.


Saya tidak kaget membaca komentar mereka. Dan saya sudah menduga akan ada yang merasa pusing. Makanya sebelum selesai, saya kasih permisalan kepada mereka. 


Saya bilang, kalau di depan kita ada tumpukan pasir tinggi, kemudian kita disuruh mindahin dalam sehari cuma pake alat gayung kecil, kira-kira berat nggak? 


Tentu akan berat, bukan?!


Tapi, coba kita disuruh mindahinnya selama setahun. Tentu akan ringan.


Naah...


Begitupun dengan bahasa Arab. Kalau kita ingin menguasainya dalam beberapa hari, tentu akan terasa berat. Sebab, banyak hal yang harus dihafal. Kaidah, kosa kata, dan tashrifan. Sementara kemampuan otak kita sangat terbatas. 


Beda halnya kalau kita kasih waktu setahunan untuk proses memahaminya, insya Allah akan jauh lebih mudah. 


Sama halnya dengan bahasa Inggris. Untuk sampai bisa, bukankah kita butuh waktu bertahun-tahun. SMP 3 tahun dan SMA juga 3 tahun. Ditambah kursus di luar sekolah. Tahunan baru kita bisa. Bahasa Arab juga begituh!


Makanya, saya sering bilang ke temen-temen yang baru belajar bahasa Arab. Kalau di Pondok Pesantren saja kadang butuh waktu 2-3 tahun untuk menguasai kaidah bahasa Arab dengan baik. Itupun belajarnya hampir setiap hari dari pagi sampai siang. Dan mereka fokus memang waktunya untuk belajar.


Lalu, bagaimana dengan kita yang belajarnya seminggu kadang cuma beberapa kali? Udah gitu, kebanyakan kita belajarnya sambilan. Ada yang sambil kerja, kuliah, dagang, ngajar, dll. Tentu akan lebih lama lagi.


Tapi...


Kita jangan melihat panjangnya jalan yang akan kita tempuh. Lebih baik, kita susun strategi. Agar terasa ringan, jalan panjang itu kita bagi-bagi menjadi jalan-jalan yang pendek. Jika kita lelah, kita bisa istirahat sejenak sambil mengumpulkan energi kembali (Baca: Muroja'ah). Insya Allah, perjalanan akan terasa ringan.


Nggak masalah, kita sampau tujuannya lama. Yang penting kita terus melangkah, nggak boleh berhenti. 


Tentu akan sangat indah, jika di usia senja nanti (misal 60-70-an tahun), kita diwafatkan Allah dalam keadaan: hafal al-Qur'an, faham artinya, bisa mengkaji kitab-kitab ulama, dan kita bisa ibadah sholat, dzikir, dan doa dengan sangat indahnya, karena kita mengerti betul apa yang kita ucapkan.


Kalaupun kita ditakdirkan tidak sampai ke tujuan, semoga kita mendapatkan pahala besar dari niat kita yang baik nan tulus ini. 


Jadi...


Mari kita terus semangat dalam mempelajari bahasa Arab. Mari kita saling memotivasi. 


Saya sendiri, sampai sekarang masih terus belajar. Karena saya merasa, ilmu saya masih sangat kurang. Muroja'ah masih sering saya lakukan.


Bahkan, sekarang saya belajar juga dari guru bahasa Arab yang dulunya adalah murid saya. Karena beliau sekarang jauh mengungguli ilmu saya, maka saya pun tertarik untuk duduk di majelisnya.


Ituh!


Semoga bermanfaat.

KEKUATAN FOKUS

 KEKUATAN FOKUS 


@MuhammadMujianto


Salah menempatkan FOKUS bisa bikin kita sengasara, bahkan celaka. 


Nggak percaya?


Pernah teman saya nyemplung ke selokan gara-gara waktu jalan dia fokusnya ke layar HP terus. Pernah juga teman saya yang lain ketabrak mobil gara-gara waktu nyebrang dia hanya fokus ke satu arah. 


Percaya kan sekarang?


Namun sebaliknya, kalau kita bisa menempatkan FOKUS dengan tepat, insya Allah, kebaikan bisa kita dapat.


***


Terkait fokus, saya teringat dengan hadits Nabi berikut:


لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ


“Janganlah seorang laki-laki mukmin (suami) membenci wanita mukminah (istrinya). Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.” (HR Muslim)


Dari hadits ini, saya belajar tentang bagaimana seharusnya kita menempatkan fokus. 


Misalnya dalam hidup berumah tangga. Kalau kita fokus pada kekurangan dan kesalahan yang dilakukan oleh pasangan hidup kita, bisa jadi kebencian yang nanti akan timbul. Tapi beda kalau kita fokusnya pada kelebihan, jasa, dan akhlak baik pasangan kita. Insya Allah benih-benih CINTA akan terus tumbuh 🌹❤🌹


Sebab, pasangan hidup kita kan juga manusia biasa. Tentu saja nggak sempurna. Ada saja kurangnya. Maka, janganlah kekurangan itu yang selalu menjadi fokus kita. Coba kita alihkan fokus pada kelebihannya. Insya Allah, rumah tangga yang bahagia akan bisa kita capai.


Nah... Demikian... Kembali ke FOKUS!


Dalam banyak hal, kalau kita bisa menempatkan FOKUS dengan tepat, insya Allah akan menjadi sebuah KEKUATAN DAHSYAT yang akan mendorong kita pada KESUKSESAN ✊🏼


Dalam BISNIS misalnya..


Ketika baru mau memulai bisnis, kalau kita fokus pada kerugian, mungkin kita nggak bakalan buka-buka bisnis. Belum mulai sudah mikir: Gimana kalo rugi..? Gimana kalo bangkrut..? Gimana kalo nggak laku..? Gimana kalo kalah saingan...?


Yaudah... Nggak bakalan jadi tuh bisnis!


Beda kalo kita mikirnya begini: Gimana kalo sukses..? Gimana kalo laku keras...? Gimana kalo banyak yang beli..? Gimana kalo banyak yang tercerahkan...?


Saya yakin, nggak pake lama kita akan buka bisnis kita. Setujuh?!


Dalam belajar juga begitu...


Kalo kita bisa fokus membaca satu-dua buku dulu sampai selesai dan faham, insya Allah hasilnya akan jauh lebih baik. Dibanding kita belajarnya asal. Belom kelar buku satu, ambil buku lain. Dan begitu seterusnya. Nggak ada yang nemplok di kepala nanti ilmunya. Berantakan!


Makanya, bagi kalangan pemula yang sedang ngikut pelatihan bahasa Arab ONLINE, saya saranin di awal fokus dulu di satu pelatihan. Jangan semuanya pingin diikutin. Pusing sendiri ntar. 


Mmm.... Apalagi ya.....?


Ya.. Intinya FOKUS deh! Di rumah, di kampus, di sekolah, di kantor, di masjid, di majelis ilmu, dll.


Oya, terutama waktu kita sholat. Kita kudu fokus tuh.. Sebab, kita sedang menghadap Sang Pencipta kita. Jangan pikiran kita kemana-mana. Insya Allah pahala besar akan kita dapat. Hati kita juga akan tenteram.


Dalam hadits riwayat Imam Hakim, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:


يقول ربكم تبارك و تعالى: يا ابن آدم! تفرغ لعبادتي أملأ قلبك غنى، و أملأ يديم رزقا..


" Robb kalian berkata, 'Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki..'. (Dikutip dari buku Kunci-kunci Rezeki karya Dr. Fadhl Ilahi, terbitan Darul Haq hal. 43-44)


Jadi, dalam beribadah hendaknya kita harus lebih bisa menjaga fokus kita. 


Nah..


Demikian...


Kecuali jika kita bisa untuk 'sambilan' dalam beraktifitas dan nggak mengganggu aktifitas utama, maka nggak fokus nggak apa-apa. Kita tentu bisa menilai sendiri, kan?! Kapan harus fokus dan kapan bisa nggak terlalu butuh fokus?


Perlu contoh?


Misalnya kita punya toko di pinggir jalan. Nggak harus kan kita fokus ngeliatin barang dagangan terus? Insya Allah dagangan kita nggak akan jalan kemana-mana :) 


Nah...


Supaya waktu kita manfaat, sambil nunggu pembeli, kita bisa sambil melakukan hal-hal yang bermanfaat. Misalnya: dengerin ceramah agama lewat HP, ngafalin al-Qur'an, baca buku y

KISAH MENULIS BUKU (3)

 PROSES KELAHIRAN BUKU HP


Sekadar berbagi pengalaman...


Dahulu, saat masih senang menulis buku-buku motivasi Islami, saya biasa menggunakan nama pena "Abdul Jabbar". Entahlah, saya sudah lupa, kenapa dulu memilih nama ini.


Sekarang, saya mau sedikit cerita tentang proses kelahiran buku saya yang berjudul “Agar HP Bikin Kamu Masuk Surga”. Semoga bermanfa’at. 


Ceritanya begini…


...


Beberapa tahun lalu, setelah buku tulisan saya yang berjudul Ngerokok Bikin Kamu “Kaya” diterima oleh penerbit, saya tertarik untuk menulis buku tentang HP. Saya tertarik untuk memberi judul yang sama , kerena menurut saya judul itu memang cukup menarik. 


Sebab, siapa sih orangnya yang nggak pingin kaya? Tul, nggak fren?!


Sebelum menuliskannya, sempat juga saya bertanya ke teman-teman. “Kira-kira tema buku tentang apa yang bagus untuk ditulis?”.


Salah seorang teman mengusulkan untuk membahas tentang HP, karena waktu itu memang HP sudah demikian menjamur. Anak SD saja banyak yang punya HP.


Mulailah saya membuat judul sementara. Waktu itu, saya memberi judul sementara “Menjadi Kaya dengan HP”.


Saya pun mulai membuat coret-coretan tentang apa saja yang bakalan saya bahas dalam bukuku ini. Dan saya juga mulai mencari berbagai referensi yang terkait dengan HP.


Seingat saya, tidak sampai sebulan, saya berhasil menulis sebuah buku setebal sekitar 40 halaman. Bukunya tidak terlalu besar. Mungkin bisa dibilang buku kecil saja ukuran saku.


Buku itu kemudian saya fotokopi perbanyak sekitar 5 eksemplar. Yang satu saya kirim ke penerbit, sedangkan sisanya saya jual ke teman-teman. Saya berharap buku ini bisa diterima penerbit dalam waktu cepat, sebagaimana buku sebelumnya tentang rokok yang nggak pake lama menunggu langsung diterima penerbit.


Namun qodarulloh, beberapa hari kemudian saha mendapat telpon dari penerbit yang berisi penolakan. Katanya, penerbit belum bisa menerbitkan bukuku ini. Saya pun kemudian menyimpan bukuku ini untuk sementara dan setelah itu sibuk tenggelam kembali dengan menulis tema-tema yang lain.


*****


Beberapa bulan kemudian, saya kembali tertarik menulis buku tentang HP. Waktu itu, saya memiliki ide untuk membuat buku tentang HP dengan bentuk buku mirip HP. Jadi kovernya dibikin sama dengan gambar HP. Sehingga kalau orang melihat buku itu, mereka seolah melihat sebuah HP. Dan saya membayangkan buku itu dijual di counter-counter HP dan ditempat penjualan pulsa.


Saya pun kembali mengotak-atik naskah yang lama. Saya ubah bahasanya menjadi bahasa remaja. Saya menargetkan pembaca buku ini nanti dari kalangan remaja, sekalian menasehati mereka agar tidak salah dalam menggunakan HP. 


Waktu itu marak berita penyalahgunaan HP oleh para remaja. Misalnya menggunakan HP untuk melihat dan menyimpan gambar-gambar porno.


Judul bukunya kemudian saya ubah menjadi “Hati-hati Kawan… HP Bisa Bikin Kamu Masuk Neraka!”.


 Pembahasannya saya tambah, sehingga menjadi buku ukuran sedang. Saya juga membuat desain cover yang mirip gambar HP.


Setelah diedit berkali-kali (sepertinya sampai belasan kali deh..), saya pun kemudian mengirimkan naskah buku ini ke beberapa penerbit. Kalau tidak salah ada 4 penerbit yang saha kirimi draft naskah buku ini lewat email.


*****


Sekitar 2 bulan kemudian, saya mendapat telpon dari sebuah penerbit. Mereka menyatakan tertarik untuk menerbitkan bukuku ini. Mereka kemudian mengirimkan draft perjanjian kerjasama.


Setelah saya baca, secara umum saya setuju dengan isi surat perjanjian yang ditawarkan. Hanya ada satu pasal yang saya kurang sreg. Isi pasal itu kurang lebih begini: 


"Jika dalam waktu sekitar satu tahun penerbit belum menerbitkan naskah penulis, maka penerbit akan mengembalikan kembali naskah ke penulis."


Jadi artinya, naskah saya belum tentu diterbitkan. Masih ada kemungkinan batal diterbitkan.


Oya, waktu itu saya juga coba sedikit menawar royalti penulis yang ditawarkan. Penerbit menawarkan royalti 5%. Saya coba menawar lebih dari itu. Tapi katanya, tidak bisa. Setelah sedikit tawar-menawar, penerbit bisa menaikkan menjadi 5,5 %.


 Namun, saya masih bingung dengan kesepakatan yang tadi itu. Kalau saya setujui, maka saya tidak bisa menawarkan naskah ini  ke penerbit yang lain. Dan saya belum bisa tenang, karena bisa jadi nantinya naskah saya ini tidak jadi diterbitkan.


Disaat saat saya sedang bingung antara menyetujui atau tidak, saya mendapat telpon dari sebuah penerbit dari Jogja. Mereka tertarik juga untuk menerbitkan naskah saya tentang HP ini. Setahu saya, penerbit ini adalah penerbit yang professional. Jika mereka sudah menerima naskah, mereka jelas akan menerbitkannya. Mereka pun menawarkan royalti lebih tinggi dari penerbit sebelumnya. Saya diberi royalti 7 %.


Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian buku saya pun terbit. Oleh penerbit judulnya diganti menjadi AGAR HP BIKIN KAMU MASUK SURGA. 


Alhamdulillah juga, saya sempat membedah buku ini di Lembaga Bimbel Bintang Pelajar cabang Cibinong pada acara pesantren kilat di bulan Ramadhan.


Demikian ceritanya.


Semoga bermanfaat.


@MuhammadMujiantoAbdulJabbar


👇PELATIHAN BAHASA ARAB👇


https://www.facebook.com/groups/314170628628710/permalink/4395283177184081/

KISAH MENULIS BUKU (2)

 👣Kisah Perjalanan Buku ”PASPOR KEMATIAN”👣


@MuhammadMujiantoAbdulJabbar


 Sebelum fokus menulis buku-buku pelajaran bahasa Arab, saya pernah tercebur dalam dunia tulis menulis buku dan artikel di surat kabar.


Berikut ini sepenggal kisah yang sempat terekam dalam ingatan..

...


Pada tahun 2007 saya keluar dari pekerjaan sebagai editor buku-buku terjemahan (Arab-Indonesia) di sebuah penerbit buku Islam di Bogor. Saya pun kemudian tertarik untuk menulis buku-buku bacaan Islami.


Alhamdulillah, selama perjalanan saya menulis buku (2007-2010), sudah belasan buku yang berhasil saya tulis. Alhmamdulillah 5 diantaranya sudah pernah diterbitkan oleh beberapa penerbit buku profesional di Jakarta, Solo, Yogyakarta, dan Bogor. Dan diantara buku karya saya yang pernah diterbitkan dan sempat beredar di seluruh Indonesia (Lewat toko buku Gramedia, Gunung Agung, dll.) adalah buku PASPOR KEMATIAN.


Berikut ini sedikit kisah perjalanan buku PASPOR KEMATIAN dari semenjak saya tulis hingga akhirnya diterbitkan oleh penerbit buku yang ada di Jakarta. Semoga bisa mengispirasi Antum semua yang membacanya.


Begini ceritanya…..


***


Awalnya buku PASPOR KEMATIAN ini saya beri judul ”SEANDAINYA AKU MATI BESOK…..”. Buku ini berisikan renungan-renungan untuk kaum Muslimin agar mau memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam hidup ini sebagai bekal menyambut datangnya kematian.


Saya menulisnya tidak terlalu lama, sekitar dua mingguan. Selesai saya ketik, kemudian saya baca-baca lagi sambil saya edit. Setelah itu saya layout sendiri. Selesai saya layout, kemudian saya PDF-kan. Kemudian saya kirim ke penerbit.


Awalnya saya pernah mengirim buku ini ke penerbit X. Saya mengirimnya via email. Beberapa minggu kemudian -kalau tidak salah sekitar dua mingguan, kurang lebih- saya mendapat SMS dari pihak penerbit. Mereka menyatakan tertarik untuk menerbitkan buku saya. Setelah berdialog sebentar, akhirnya bentuk kerjasama yang disepakati berupa royalti 5 % (dari harga buku dipasaran), dan royalti tahap awal akan diberikan enam bulan kedepan. Untuk selanjutnya diberikan setiap empat bulan. Pihak penerbit mengatakan akan memberikan uang depe sebesar satu juta setelah MoU ditandatangani.


Setelah itu, saya menunggu-nunggu datangnya MoU ke alamat tempat tinggal saya. Tapi hingga bermingu-minggu, bahkan hampir 2 bulanan menunggu, MoU tak kunjung datang. Saya pun kemudian mengkonfirmasi pihak penerbit. Dan perkiraan saya benar. Pihak penerbit batal menerbitkan naskah saya. Mereka mengucapkan permohonan maaf karena telah membuat saya menunggu-nunggu. Beberapa hari kemudian, datanglah sepucuk surat ke alamat tempat tinggal saya. Isinya begini:


***


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Semoga Allah ’Azza wajalla senantiasa melimpahkan rahmad dan karunia-Nya kepada kita, amin.


Kami atas nama Redaksi Pustaka X, sebelumnya mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran atas partisipasi saudara dalam pengiriman naskah kepada kami (Pustaka X) beberapa waktu yang lalu.


Hasil dari musyawarah team redaksi pada tanggal 14 Juni 2008, setelah membaca dan mengkaji beberapa naskah yang saudara ajukan kepada redaksi X, dengan beberapa pertimbangan dan alasan-alasan, maka kami memutuskan. Bahwa naskah atau karya saudara belum dan atau kurang memenuhi karakter baik isi (kualitas) maupun jumlah halaman dari sebuah buku yang kami harapkan, sehingga kami belum dapat menerbitkan naskah-naskah saudara.


Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, semoga menjadi masukan yang positif, besar harapan kami jangan pernah patah semangat untuk berkarya dan beramal. Mudah-mudahan Allah ’Azza wajalla memberi hikmah dan hidayah kepada kita, amin.


Jazakumullahu khairan katsiran.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


***


Demikian isi surat yang saya terima. 


Sedih? 


Yaa…jelas sedih. Tapi mau gimana lagi...


Beberapa hari kemudian, setelah mendapat kabar naskah saya dibatalkan, saya langsung mengirim ke penerbit Cicero Publishing yang berada di Jakarta. Saya mengirimnya via email. Ternyata, tidak sampai seminggu saya langsung ditelpon pihak penerbit. Mereka menyatakan tertarik untuk menerbitkan naskah saya. Tidak berapa lama, saya sudah melakukan penandatanganan MoU dan cover buku saya sudah terpampang di situs penerbit itu. Kemudian tepat tanggal 1 Ramadhan 1429 H/1 September 2008,  saya mendapat kabar dari pihak penerbit bahwa katanya buku saya telah selesai dicetak. Dan kini, buku saya itu sudah beredar di seluruh Indonesia. Oleh penerbit judulnya diganti menjadi ”PASPOR KEMATIAN”.


Ketika buku saya ini terbit, beberapa saya hadiahkan ke orang-orang dekat. Diantaranya kepada bibi saya. Komentar beliau setelah membaca buku ini, ”Jadi kepingin nangis membacanya…..”. Sepertinya beliau terharu membaca sebuah cerita yang saya bawakan di dalam buku ini.


Beberapa tahun lamanya buku PASPOR KEMATIAN ini beredar di seluruh indonesia lewat perantaraan toko buku GRAMEDIA & GUNUNG AGUNG. Sekitar 3000 eksemplar buku yang beredar. Saya sendiri sempat melihat buku saya ini dipajang di rak buku GRAMEDIA di Bogor dan Jakarta. Bahkan di toko buku GUNUNG AGUNG daerah Bogor, buku saya ini dipajang tepat di depan kasir yang menunjukkan bahwa buku saya ini cukup menarik menurut mereka.


Hingga akhirnya, beberapa bulan lalu saya mendapat telpon dari penerbit buku CICERO PUBLISHING. Mereka memutuskan untuk mengembalikan hak penerbitan buku PASPOR KEMATIAN kepada saya. Dan saya mendapatkan kiriman paket berisi sekitar 50-an buku PASPOR KEMATIAN yang masih tersisa.


Jadi, buku PASPOR KEMATIAN sekarang sudah tidak tersedia lagi di pasaran. Tinggal tersisa beberapa buku yang ada pada saya. 


Demikian.


Semoga bermanfaat.