Rabu, 19 Januari 2022

JANGAN KAGET!

 JANGAN KAGET!


Anda jangan kaget ya.. Saya mau ngasih kabar mengejutkan. Pokoknya Anda jangan kaget.


Pernah beberapa kali saya iseng nanya ke teman-teman. Mereka semuanya adalah anak pengajian. Kalau di sekolah atau di kampus, mereka dibilangnya anak rohis atau aktivis dakwah. Ternyata hampir semuanya menjawab:


'Belum pernah!'


Pertanyaan saya sebenarnya sederhana: "Selama hidup ini, berapa kali Anda menamatkan baca terjemahan al-Qur'an?"


Hayoo... ! Kalau Anda pernah berapa kali? Jangan-jangan belum pernah sekali pun!


Kenapa saya iseng mengajukan pertanyaan seperti ini?


Ceritanya waktu itu, waktu saya masih kuliah, teman sekamar saya pernah nanya tiba-tiba. Tanpa saya sangka-sangka. 


"Ente pernah berapa kali namatin baca terjemahan al-Qur'an?"


Saya waktu itu nggak bisa jawab langsung. Saya terdiam sejenak. Karena seingat saya, tidak pernah sekalipun saya meniatkan untuk membaca rutin terjemahan al-Qur'an dari awal sampai akhir.


Kalau khatamin al-Qur'an alhamdulillah sering. Terutama di bulan Ramadhan. Tapi kalau namatin baca terjemahannya, sepertinya belum pernah.


Teman saya, kemudian berkata:


"Orang non Muslim ajah ada yang mau membaca terjemah al-Qur'an sampai selesai... Banyak yang kemudian dapet hidayah karena baca terjemahan al-Qur'an....".


Semenjak itu, saya jadi tersadar. Bener juga kata teman saya ini. Mestinya kita orang Islam yang harusnya lebih semangat baca terjemahan al-Qur'an. Bukankah kita sering mengatakan:


Al-Qur'an pedoman kita...

Al-Qur'an adalah petunjuk kita...

Al-Qur'an adalah pelita...

Al-Qur'an ibarat peta...


Namun yang jadi pertanyaan sekarang: 


Gimana bisa al-Qur'an jadi petunjuk, kalau artinya saja kita nggak tau???


Nah...! 


Ini PR buat kita semua..

Ini renungan buat kita bersama, termasuk saya...


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Hajrul Qur`an (berpaling dari al Qur`an) itu ada beberapa bentuk. 


Pertama : Berpaling tidak mau mendengarkannya, dan tidak mengimaninya. 


Kedua : Tidak mengamalkannya, dan tidak berhenti pada apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkannya, walaupun ia membaca dan mengimaninya.


Ketiga : Ttidak berhukum dengannya dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) serta cabang-cabangnya. 


Keempat : Tidak merenungi dan tidak memahami, serta tidak mencari tahu maksud yang diinginkan oleh Dzat yang mengatakannya. 


Kelima : Tidak mengobati semua penyakit hatinya dengan al Qur`an, tetapi justru mencari obat dari selainnya. Semua perbuatan ini termasuk dalam firman Allah Azza wa Jalla:


“Rasul berkata : “Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan al Qur`an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. [al Furqan/25 : 30].  (Dikutip dari https://almanhaj.or.id/2767-meraih-cinta-allah-subhanahu-wa-taala-dengan-al-quran.html)


Mungkin ini saja sedikit renungan dari saya..


Semoga yang sedikit ini jadi pengingat untuk kita semua.


@MuhammadMujianto


👇BELAJAR BAHASA ARAB VIA FACEBOOK👇


https://www.facebook.com/833159150054672/posts/4277598102277409/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar