Rabu, 19 Januari 2022

OTODIDAK, MUNGKINKAH?

 OTODIDAK, MUNGKINKAH?


Saya ingin sedikit bercerita...

Ceritanya begini...


Tahun 2002 bisa dibilang saya baru awal-awal belajar bahasa Arab. Saya baru belajar buku-buku Nahwu tingkat pemula. Itupun hampir semua saya pelajari sendiri.


Yang saya ingat, waktu itu saya baru pelajari: Kitab al-Muyassar, Mukhtarat, Terjemah Ajurrumiyyah, Kitabut Tashrif, Amtsilatul Jumal, dan beberapa buku Nahwu terjemah yang saya beli di toko buku.


Untuk latihan istima', saya biasa dengarkan kaset ceramah Syaikh Utsaimin dan Syaikh Fauzan. Saya dengarkan berulang-ulang hingga faham sebagian besarnya.


Waktu itu saya belum belajar Kitab Mulakhos dan belum ikut daurohnya yang biasa diadakan di Gresik Jawa Timur. Tapi, alhamdulillah saya sudah bisa baca kitab dikit-dikit. Semua saya latih sendiri secara mandiri, tanpa bimbingan guru secara langsung.


Suatu hari, saya dapat info dauroh syar'iyyah gratis selama 15 harian di Akademi Dakwah Islam (ADI) Leuwiliang. Syaratnya minimal bisa berbahasa Arab pasif. Saya pun nekat ikut. Sendirian saya berangkat ke sana.


Bisa dikatakan ini adalah dauroh paling mewah yang pernah saya ikuti. Makan enak, kitab panduan diberikan gratis, liburan ke Pulau Bidadari di akhir dauroh, dan pulangnya pun diongkosin.


Kitab yang dibahas waktu itu seingat saya: Manhajus Salikin Bab Nikah, Syarah Tsalatsatul Ushul Syaikh Utsaimin, Syarah Mukhtashor Lum'atul I'tiqod, Tafsir Syaikh Utsaimin,  DLL (Dan Lupa Lagi).


Pengajarnya adalah para ahli ilmu dari Saudi, Murid Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin. Jadi belajarnya full bahasa Arab.


Alhamdulillah, dauroh bisa saya ikuti dengan baik. Saya faham apa yang disampaikan. Sayangnya waktu itu (hingga sekarang), saya tidak lancar muhadatsah. Jadi, saya kurang bisa berinteraksi langsung langsung dengan mereka.


Takutnya nanti pas ditanya, saya jawabya kebanyakan:


"Mmm.... Ya'niy... Keif... Madza...."


Sekarang, ADI sudah tiada. Sudah bubar setelah kasus Bom Bali 2. Setelah kasus itu, dana bantuan dari luar jadi susah masuk. 


Inilah diantara mudhorot bom bunuh diri. Pihak yang tidak ada hubungan apa-apa dengan pengebom jadi kena getahnya.


Intinya, yang ingin saya sampaikan:


Belajar bahasa Arab untuk sekadar bisa baca kitab dan listening, insyaallah masih bisa dilakukan otodidak. Apalagi sekarang sarana belajar banyak. 


Beda dengan muhadatsah. Memang harus ada lingkungan yang mendukung. Butuh praktek bersama. Berat untuk dipelajari sendirian tanpa teman. 


Demikian.


Semoga bermanfaat.


✊Semangat Belajar✊


#EdisiKenangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar