✍️ PANJANG PENDEK YANG BERMASALAH
Dulu waktu kecil, ada tebak-tebakan begini:
"Apa bedanya kacang panjang dengan celana panjang?"
Gampang sih jawabannya. Ada yang tau?
Jawabannya begini...
Kalo kacang panjang, ketika dipotong jadi pendek, namanya tetep kacang panjang. Kalo celana panjang, ketika dipotong jadi pendek, namanya berubah jadi celana pendek.
Naah... Gimana? Masuk akal, kan?!
*****
Eh, tapi ngomong-ngomong masalah panjang dan pendek, saya jadi teringat pengalaman shalat di beberapa masjid kampung tempat dulu saya pernah tinggal. Ada beberapa imam yang keliru saat membaca ayat al-Qur'an.
Ada kata yang mestinya dibaca panjang, eh dibaca pendek. Ada yang mestinya pendek, eh dibaca panjang. Padahal bisa mengubah arti yang sangat jauh.
Contohnya:
Dalam QS. Al-Kaafirun (109) ayat 2. Mestinya dibaca:
لا أعبد ما تعبدون
Aku TIDAK AKAN MENYEMBAH apa yang kalian sembah.
Tapi dibacanya:
لأعبد ما تعبدون
Sehingga artinya berubah menjadi:
Sungguh AKU AKAN MENYEMBAH apa yang kalian sembah.
Jauh sekali kan artinya?! Bahkan saling berkebalikan.
Contoh lain lagi, dalam membaca QS. Adh-Dhuhaa (93) ayat 5.
Mestinya dibaca:
و لسوف يعطيك ربك فترضى
Dan kelak Tuhanmu PASTI MEMBERIKAN karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.
Tapi dibacanya:
و لا سوف يعطيك ربك فترضى
Artinyà menjadi:
Dan kelak Tuhanmu TIDAK AKAN MEMBERIKAN karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.
Nah, lho! Jauh banget bedanya.
Ini baru masalah panjang pendek. Dalam masalah membaca 'tasydid' pun sama. Harus kita perhatikan.
Saya pernah dengar penjelasan, kalau lafazh "IYYAAKA" pada QS. Al-Fatihah dibaca tanpa tasydid (إياك), maka artinya jadi jauh beda.
Yang awalnya bermakna:
"Hanya kepada-Mu kami menyembah"
Menjadi:
"Kepada cahaya matahari kami menyembah".
Wallahu a'lam.
*****
Jadi intinya...
Hendaknya kita berhati-hati. Mulai sekarang, kita coba introspeksi diri. Kita periksa kembali ibadah kita. Jangan-jangan amalan ibadah yg selama ini kita lakukan masih banyak kesalahannya. Dan kita tidak sadari hal itu.
Mungkin banyak diantara kita yang amalan ibadahnya itu bawaan sejak kecil. Terutama do'a, dzikir, bacaan al-Qur'an, dan bacaan shalat. Maka, kita coba kaji kembali.
Bisa jadi ternyata ada yg tidak ada dasarnya (baca:dalilnya). Kalaupun ada, bisa jadi lemah bahkan palsu. Makanya, kita harus terus memperbaiki diri.
Sebab kalau didiamkan, susah nanti benerinnya. Seperti engkong-engkong yang sudah terbiasa keliru saat baca al-Qur'an. Ketika dibetulin susah. Sebab sudah bertahun-tahun dia bacanya seperti itu. Lidahnya sudah kaku.
Makanya sekarang...
Mari kita perbaiki diri...
Mari kita ngaji lagi...
Mari kita buka-buka buku lagi...
Agar ibadah kita nantinya bisa menjadi baik dan sempurna.
Sebab, ibadah itu nggak bisa asal-asalan. Harus serius. Harus baik dan benar. Sebab, kita nanti akan mempersembahkannya di hadapan Allah Subahanahu wa Ta'ala.
Kalau urusan dunia saja kita pinginnya yang bagus-bagus, mestinya urusan akhirat harus begitu juga.
Kalau untuk urusan dunia kita begitu terusik saat melihat ketidak bagusan. Cat rumah yang sudah kusam, tembok yang retak-retak, kompor gas yang nyalanya kecil, dll..
Tapi....
Kenapa kita tidak merasa terusik sama sekali saat melihat ibadah kita gitu-gitu ajah dari dulu. Nggak ada perubahan dari kita kecil.
Tidakkah kita malu untuk mempersembahkan ibadah yang ala kadarnya itu kepada Allah kelak?!
Sobat...
Mumpung kita masih diberi waktu. Dan mumpung sarana belajar sekarang semakin mudah didapat.
Mari kita berbenah!
Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, karena ibadah kita banyak yang ditolak. Sebab masih banyak kekurangannya. Sebagiannya bahkan fatal!
Semoga bisa jadi renungan kita bersama. Khususnya saya.
Silakan diminum kopinya ☕
Wassalam.
✍Bogor, Rabu pagi 11/1/2017
👔Muhammad Mujianto
💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
📒MATERI PELENGKAP UNTUK PEMULA
⏰BAHASA ARAB 5 MENIT⏰
👇VIA YOUTUBE👇
https://youtube.com/playlist?list=PLaZXzoTqr1A8gqMadakc3czqYCvxJLxcK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar