SI B
Si B adalah kawan saya. Pekerjaannya adalah jualan minyak wangi. Tempat berjualannya berpindah-pindah, dari satu mesjid ke masjid yang lainnya, dari satu tempat kajian ke tempat kajian lainnya.
Meskipun penghasilannya tidak seberapa, namun Si B ini saya kenal sebagai orang yang dermawan. Dia tidak pelit.
Pernah suatu ketika saya bertemu dia sedang berjualan di depan gerbang masjid UI Depok. Saat kami berdua sedang asyik ngobrol, tiba-tiba dia menyelipkan 2 botol minyak wangi ke kantong baju saya.
“Ini, buat antum”.
Saya pun tak bisa menolaknya.
Pernah juga saya berjumpa dengannya saat sedang berdagang di depan gerbang masjid daerah Blok M. Waktu itu, saya tak sengaja berjumpa dengannya. Saya tidak tahu kalau dia juga berjualan di masjid itu.
Kami pun kemudian asyik ngobrol, sambil menanyakan kabar karena sudah sekian tahun lamanya tak bertemu.
Namun, tiba-tiba, saat sedang asyik ngobrol dia memesankan ketoprak untuk saya. Karena sudah terlanjur dipesan, saya pun tak bisa menolak.
*
Ada satu hal lagi yang saya takjub dengan Si B. Dia senang membatu orang lain. Meskipun dia sehari-harinya berjualan minyak wangi, namun dia tak takut orang lain menyaingi dagangannya.
Terkadang ada orang yang berjualan barang tertentu, namun ketika ditanya: Belanjanya di mana mas? Nyetak buku di mana yang harganya murah?……………Dll.
Diapun segera bilang:
“Oh, rahasia!”.
Beda dengan Si B. Dia tidak takut tersaingi.
“Ana belanja minyak wangi biasanya di Tanah Abang. Ana bisa dapet murah. Kalo antum mau ntar ana anterin. Soalnya kalo orang baru ntar jatohnya bisa mahal. Kalo belanja bareng ana ntar antum bisa dapet harga murah” demikian jelasnya kepada saya pada suatu ketika.
Dia pun pernah berkata:
“Silahkan aja kalo antum mau jualan minyak wangi juga. Ane sih nggak masalah. Rezeki udah diatur….”.
Demikian sedikit kisahnya.
Semoga bisa diambil hikmahnya.
Wassalam.
@MuhammadMujianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar