Rabu, 19 Januari 2022

MENGINTIP DUNIA PENERBITAN

 📚 MENGINTIP DUNIA PENERBITAN


Sekadar berbagi pengalaman...


Sekitar tahun 2005, saya dapat kabar bahwa bikin penerbitan buku itu gampang. Yang penting kita punya naskah, bisa layout sederhana, bisa design cover sederhana, dan punya duit untuk nyetak buku. 


Setelah itu, kita datang ke percetakan untuk nyetak buku. Nggak lama, buku pun jadi dan siap dipasarkan.


Namun, pada waktu itu, ongkos cetak buku lumayan besar. Kalau mau dapat ongkos cetak murah perbuku, paling tidak harus nyetak sekitar 3000 eks/judul. 


Jadi, modal untuk bikin penerbitan sendiri lumayan besar waktu itu.


 Bagi pemain baru, resiko ruginya juga besar. Sebab, dia belum banyak tahu tempat masarin buku. Kalau tidak laku, buku akan numpuk di gudang. Modal pun bisa lama baliknya. Bahkan bisa jadi nggak balik-balik.


Alhamdulillah, waktu itu saya bersama beberapa kawan bisa bikin penerbitan buku kecil-kecilan dengan nama PUSTAKA LAKA. 


Empat judul buku saku berhasil diterbitkan. Semuanya berasal dari kutaib yang saya terjemahkan. Diantara  buku terjemahan kutaib "MANIL FAA-IZ?" yang diterjemahkan menjadi buku berjudul:


SIAPAKAH ORANG YANG BERUNTUNG?


Seingat saya, buku ini kami cetak sebanyak 3000 eks. Biaya cetaknya sekitar Rp. 1.550/eks. Buku kami jual sekitar Rp. 7.000 atau Rp. 8.000, saya lupa.


...


Pernah juga saya bekerjasama dengan beberapa penerbit buku. Naskah saya ajukan ke beberapa penerbit. Alhamdulillah, beberapa diterima.


Berikut ini pengalaman yang saya dapat:


Ada yang kita harus nunggu 3  bulan untuk dapat kepastian bahwa naskah kita diterima atau ditolak. Lumayan lama, bukan?!


Namun, ada juga yang tidak sampai seminggu, saya langsung dihubungi penerbit yang tertarik nerbitin naskah saya.


Ada penerbit yang punya kebijakan begini:


"Naskah Anda kami terima. Tapi, jika dalam waktu setahun tidak kami terbitkan, maka hak penerbitan akan kami kembalikan ke penulis". 


Jadi, naskah kita yang diterima tidak jadi jaminan akan diterbitkan. Oleh karena itu, jangan bikin selametan dulu kalau baru dapat kabar naskah diterima. Sebab, bisa jadi tiba-tiba dibatalkan pihak penerbit :)


Ada yang berani ngasih royalti cuma 5% dari harga jual buku. Paling besar saya dapat 7.5% dari harga buku.


Ada penerbit yang harus ditagih berkali-kali baru mau nransfer uang royalti. Kalau tidak, royalti tak akan pernah dikirim. 


Ada penerbit yang betul-betul amanah. Laporan royalti dikirim sesuai kesepakatan. Bahkan lengkap dengan laporan bukti buku terjual di toko-toko buku agen dan distributor mereka.


Ada penerbit yang menghilang begitu saja tak ada kabar. Padahal saya masih berhak dapat royalti dari mereka.


Dll.


Semua pernah saya alami.


Hingga akhirnya saya pernah buat keputusan begini:


"Sebisa mungkin jangan berurusan dengan penerbit. Sebisa mungkin, kita terbitkan sendiri naskah yang kita punya."


Naah..


Alhamdulillah, sekarang nyetak buku makin mudah dan murah. Satu eksemplar pun bisa. 


Bahkan kalau mau, buku fotokopian pun bisa kita jual. Contohnya Serial Kitab Fahimna. Saya jual dalam bentuk fotokopian. Alhamdulillah, laku.


Demikian. 


Semoga informasi ini bermanfaat.


@MuhammadMujianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar